Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 02 Mei 2012

NATIJAH Oleh Taat Budi Utomo

Rangkuman dari catatan perihal ILMU
HADITS dari awal hingga hari
ini....Barangkali ada yang masih belum
baca....
# 1. HADITS
by Keluarga Sakinah on Wednesday, March
9, 2011 at 4:15pm
Kata " hadits " secara bahasa maknanya
adalah sesuatu yang baru sebagai lawan dari
kata " qadiim " yaitu lama atau
kuno....Sedangkan secara syariat adalah apa
- apa yang disandarkan kepada Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berupa
qauliyah ( perkataan ), fi'liyah
( perbuatan ), taqririyah ( ketetapan /
persetujuan ), khalqiyah
( penciptaan ) dan khuluqiyah
( akhlaq ) beliau Rasulillah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam.
Perkataan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam adalah sebagaimana yang diucapkan
bertepatan dengan timbulnya permasalahan
yang diperselisihkan berkaitan dengan
penetapan hukum atau lainnya....Seperti
pada sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam mengenai air laut...." Airnya suci dan
bangkainya halal ". [ Muttafaq 'Alaih : Al
Bukhari dan Muslim ]...." Penjual dan
pembeli memiliki pilihan selama belum
berpisah. [ Al Hakim ].
Perbuatan beliau sebagaimana yang
diriwayatkan oleh para sahabat yang
termasuk dalam kategori ibadah, seperti
wudhu, menunaikan shalat, manasik haji,
adab - adab berpuasa dan lainnya yang
jumlahnya banyak sekali.
Ketetapan atau persetujuan beliau
terkait dengan ketika para sahabat yang
melakukan sesuatu yang tidak diucapkan
dan tidak dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebelumnya
namun kemudian beliau menetapkannya
atau mendiamkannya yang bermakna
menyetujuinya....Seperti dalam hadits Abu
Sa'id Al Khudri tentang ruqyah dimana
dalam hadits ini dinyatakan bahwa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
bertanya kepada seseorang yang habis
mengobati pimpinan suatu kaum dengan
sabdanya :...." Siapa yang memberitahukan
kepadamu bahwa Al Faatihah itu
ruqyah ?....Orang itu kemudian menjawab :
Ya Rasulullah, itu adalah sesuatu yang aku
tanamkan dalam kesadaranku. [ Al
Bukhari ].
Penciptaan Rasulillah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam adalah sebagaimana
yang diriwayatkan oleh para sahabat berupa
sifat penciptaan yang ada pada lahiriah
beliau....Digambarkan bahwa beliau adalah
seorang laki - laki yang memiliki postur
tubuh sedang ( tidak tinggi tidak pendek ),
berambut hitam dan matanya
bercelak....Termasuk hal lainnya adalah apa
yang digambarkan oleh para sahabat dari
roman muka beliau.
Akhlaq Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam adalah riwayat - riwayat yang
menyebutkan tentang tindak tanduk beliau
sebelum kenabian dan dalam perjalanan
( sirah ) beliau setelah kenabian eperti
ketika beliau ber tahannuts ( menyendiri ) di
Gua Hira', sirah beliau yang banyak dan
bagus serta hal - hal yang berkenaan dengan
keindahan budi pekertinya....Dan juga
baiknya perbuatan - perbuatan beliau yang
mengundang decak kagum sebelum
kenabian dan setelahnya....Seperti pujian
Allah dalam QS Al Qalam : 4 ....Dan
sesungguhnya engkau benar - benar
berbudi pekerti yang luhur....Juga pada
perkataan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha ketika
ditanya tentang akhlaq Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam....dia
menjawab : Akhlaq beliau adalah Al Qur'an.
[ Muslim ].
# 2. AS SUNNAH
by Keluarga Sakinah on Thursday, March 10,
2011 at 5:24am
Kata " sunnah " secara bahasa maknanya
adalah jalan, cara atau metode....Adapun
secara syariat bermakna amalan - amalan
yang dilakukan berdasarkan sumber
" hadits " Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam....Abdurrahman bin Mahdi
mengatakan dalam membedakan antara
hadits dan sunnah dengan menggambarkan
3 imam yaitu Imam Sufyan Ats Tsauri,
Imam Al Auza'i dan Imam Malik....Imam
Sufyan Ats Tsauri adalah seorang imam
dalam hadits dan bukan imam dalam
sunnah, Imam Al Auza'i adalah imam
sunnah dan bukan imam hadits, sedangkan
Imam Malik adalah imam keduanya.
Apabila seseorang mengetahui, hafal dan
paham akan sebuah hadits namun dia
belum melaksanakan amalan sesuai dengan
hadits yang diketahui dan dipahaminya
maka orang tersebut dikatakan belum
mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam....Jadi bisa dikatakan
bahwa hadits adalah " ilmu " sedangkan
sunnah adalah " amal " nya.
Keduanya mempunyai keutamaan yang
saling berkaitan....Mempelajari hadits
mempunyai keutamaan dalam ilmu sebagai
pedoman dalam melaksanakan amal dimana
amal sangat membutuhkan
ilmu....Sedangkan melaksanakan sunnah
mempunyai keutamaan dalam amal dimana
amal inilah sebagai bentuk kecintaan
seseorang kepada Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dengan menghidupkan
sunnah.
Mempelajari hadits dengan cara
mengafalkannya kemudian memahaminya
dari seorang guru adalah pintu menuju
amalan yang berdasarkan kepahaman
hadits....Disinilah banyak terjadi perbedaan
pendapat di kalangan umat ini dalam
memahami hadits dengan kemampuan yang
sangat terbatas baik secara lafadhz maupun
secara makna....Namun demikian para ahli
hadits ( muhadditsin ) sudah banyak
menjelaskannya dalam syarah ( penjelasan )
dalam kitab - kitab hadits sehingga dalam
memahami hadits cukup hanya menukil
penjelasan para ahli hadits....Dan dalam
proses belajar tersebut mutlak
membutuhkan seorang guru atau
pembimbing....Sehingga ketika
mengamalkan hadits tersebut tidak
salah....Mengamalkan hadits dengan benar
inilah yang disebut dengan mengamalkan
atau menghidupkan sunnah.
# 3. AWAL PENULISAN HADITS
by Keluarga Sakinah on Friday, March 11,
2011 at 4:53am
Pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam tidak ada sumber hukum yang
dimiliki oleh para sahabat yang dijadikan
sebagai pedoman mereka selain Al Qur'an
yang mereka hafal dan tulis pada pelepah
pohon kurma, kulit unta, bebatuan dan lain
- lain....Sebagian besar waktu mereka
dihabiskan bersama Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam untuk mendapatkan
banyak penjelasan mengenai wahyu yang
turun berangsur - angsur kepada beliau dan
berbagai macam hal terkait
dengannya....Beliau melarang para sahabat
untuk menulis hadits - hadits yang
diriwayatkan darinya karena khawatir akan
bercampur aduk antara perkataan dan
keterangan beliau dengan ayat - ayat Al
Qur'an.
Beliau bahkan bersabda : Janganlah kalian
menulis sesuatu dariku, dan siapa saja yang
telah menulis dariku selain Al Qur'an
hendaklah ia menghapusnya. [ Jami'
Bayan Al 'Ilmi 1/86 ] .
Namun demikian sebagian sahabat ada yang
tetap menulis perkataan belaiau seperti
lembaran yang dimiliki oelh Abdullah bin
'Amr bin 'Ash....Tulisan Abdullah bin 'Amr
inilah yang mengundang perhatian sebagian
sahabat terutama pada saat dilarangnya
penulisan tersebut....Mereka berkata kepada
Abdullah bin 'Amr bin 'Ash : Sesungguhnya
engkau telah menulis setiap apa yang
diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam, sedangkan beliau melarangnya
dan bisa marah akan hal itu....Mendengar
hal tersebut maka Abdullah bin 'Amr bin
'Ash menemui beliau dan beliau bersabda
kepadanya : Catatlah ( yang kamu terima )
dariku, demi jiwaku yang ada di tangan Nya,
tidaklah sesuatu yang keluar dari mulutku
melainkan kebenaran. [ Al Hakim ] .
Inilah izin khusus yang pertama kali
diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam untuk mencatat hadits kepada
sahabat Abdullah bin 'Amr bin 'Ash....Izin
istimewa dan khusus ini diberikan beliau
karen Abdullah bin 'Amr bin 'Ash seorang
yang sangat cerdas dan kuat hafalannya
serta dialah sahabat yang mempunyai
kemampuan menulis dalam bahasa Suryani
dan Arab dengan baik dan benar.
Kemudian setelah sebagian besar wahyu
telah turun dan dihafalkan oleh banyak
sahabat dan kaum muslimin serta hilang
kekhawatiran akan bercampurnya dengan
hadits maka beliau menegaskan : Ikatlah
ilmu itu dengan tulisan. [ Tadrib Ar
Rawi : 150 ]....Rafi' bin Khadij berkata
bahwa dia bertanya kepada beliau, Ya
Rasulullah, sesungguhnya kami mendengar
banyak hal dari engkau, apakah kami boleh
menulisnya ?....Beliau menjawab : Tidak
mengapa, tulislah ! [ Tadzkirat Al
Huffazh 1/5 ].
# 4 . SEPENINGGAL NABI
SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
by Keluarga Sakinah on Friday, March 11,
2011 at 2:37pm
Sepeninggal Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa
Sallam para khulafa' Ar Rasyidin bersikap
keras terhadap penulisan hadits....Khalifah
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu
mengumpulkan beberapa catatan hadits dan
membakarnya....Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu 'anhu ketika hendak mencatat
hadits - hadits, dia meminta pendapat dari
para sahabat dan mayoritas para sahabat
mendukungnya....Namun Khalifah Umar
tidak langsung menerimanya begitu
saja....dia meminta petunjuk kepada Allah
Ta'ala supaya diberi pilihan yang tepat tanpa
ada kebimbangan....Kemudian pada hari
berikutnya dia berkata : Sesungguhnya saya
pernah menyebutkan sesuatu kepada kalian
tentang pencatatan hadits yang telah kalian
ketahui lalu saya teringat bahwasanya orang
- orang ahli kitab sebelum kalian telah
menulis tulisan bersamaan dengan kitab
Allah Ta'ala....dan ternyata mereka
terhanyut dan lebih mementingkan tulisan
tersebut dan meninggalkan kitab Allah
Ta'ala....Adapun saya, demi Allah, tidak akan
menyertakan kitab Allah dengan sesuatu apa
pun selamanya....Kemudian Khalifah Umar
meninggalkan penulisan hadits.
Apa yang dilakukan oleh kedua khalifah
tersebut tidak lain karena keduanya ingin
mengarahkan kaum muslimin agar mereka
lebih mementingkan penguasaan
mempelajari wahyu dari Allah ( al Qur'an )
terlebih dahulu.
Begitu kerasnya Khalifah Umar radhiyallahu
'anhu dalam masalah tersebut sampai dia
menahan tiga sahabat yang terlalu banyak
berurusan dengan penulisan
hadits....Mereka adalah Ibnu Mas'ud, Abu
Darda' dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhuma.
[ Al Ihkam 2 / 193 ]....Walaupun
demikian jumlah sahabat yang menulis
hadits - hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam semakin banyak dan bertambah
dan mereka berpegang teguh pada ajaran
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan
mengamalkan perintah Allah :....Apa yang
diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah.... [ QS Al Hasyr 59 :
7 ] ....Serta mengikuti perintah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam....Semoga Allah
menerangi wajah seseorang yang
mendengar ucapan - ucapanku, lalu dia
menghapal dan memahaminya kemudian
menyampaikannya sesuai dengan yang
didengarnya. [ HR. Abu Dawud ].
Demikianlah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam telah memberikan wasiat kepada
para sahabat beliau agar menyampaikan
hadits - hadits kepada generasi
berikutnya....Sebagian para sahabat
kemudian sangat bersemangat menyambut
seruan tersebut kemudian mereka
berpencar di pelbagai negeri dan zaman
dalam menyampaikan amanat Rasul kepada
kaum muslimin dan menjadi pijakan para
tabi'in yang hidup tidak sejaman dengan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
untuk belajar dan bertanya tentang hadits
tanpa sedikitpun meninggalkan kitab Allah
yang pernah diwahyukan kepada Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Diantara para sahabat radhiyallahu 'anhuma
yang paling banyak menyampaikan hadits
adalah :
1. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang
paling banyak telah meriwayatkan hadits
sebanyak 5373 hadits.
2. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan hadits sebanyak 2630
hadits.
3. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan hadits sebanyak 2286
hadits.
4. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan hadits sebanyak 1660
hadits.
5. Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan sebanyak 1540 hadits.
6. Abu Sa'id Al Khudri Sa'ad bin Malik
radhiyallahu 'anhu meriwayatkan
sebanyak 1170 hadits.
7. Aisyah ummul mukminin radhiyallahu
'anha meriwayatkan sebanyak 2210
hadits.
Selain darinya tidak ada sahabat yang
meriwayatkan lebih dari seribu
hadits....namun jumlah mereka sangat
banyak sekali sehingga para muhaditsin
memperkirakan ada sekitar satu juta
hadits....Karena Imam Bukhari rahimahullah
saja mengumpulkan sekitar 600.000 hadits
selama 16 tahun....untuk satu per satu
diteliti sehingga menghasilkan hanya sekitar
7250 hadits yang dihimpun dalam Kitab
Hadits yang paling shahih " JAMI' ASH
SHAHIH "....Ya Salaam... Berapa hadits
yang sudah kita ketahui, hafal,
pahami dan amalkan sampai saat
ini ?
# 5. PERJALANAN MENCARI
by Keluarga Sakinah on Saturday, March 12,
2011 at 5:25am
Salah satu keistimewaan para sahabat,
tabi'in, tabi'ut tabi'in dan para muhaditsin
generasi awal adalah mereka rela
menempuh perjalanan yang sangat jauh ke
berbagai negeri hanya untuk mendengar
satu hadits demi mencari kebenaran dan
ketepatan redaksi matan ( isi ) hadits
tersebut.
Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata :
Telah sampai kepadaku kabar tentang
seseorang yang memiliki hadits yang ia
dengar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam....Lalu saya segera membeli seekor
unta kemudian saya menempuh perjalanan
ber minggu - minggu hingga ke Syam dan
saya bertemu dengan orang tersebut
bernama Abdullah bin Unais dan dia
menceritakan kepadaku sebuah hadits.
Abu Ayyub Al Anshari mengadakan
perjalanan panjang dari Hijaz menuju Mesir
untuk menemui Uqbah bin Amir hanya
untuk membuktikan keshahihan yang ia
hafal dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam mengenai As Satru 'Ala Al Mu'min
( menutupi aib seorang mukmin )....Setelah
bertemu dan mendengar dari Uqbah
kemudian ia menuju tunggangannya lalu
menaikinya untuk pulang menuju Madinah.
Seorang tabi'in dari Madinah pernah datang
menemui sahabat Abu Darda' di Damaskus
hanya untuk mendapatkan satu hadits yang
didengar oleh Abu Darda' dari Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Kisah - kisah perjalanan panjang dan sangat
jauh dari para ulama muhaditsin hanya
untuk mendapatkan satu hadits dari seorang
sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in sangatlah
banyak....Begitu gigih usaha mereka untuk
mengadakan perjalanan yang sangat jauh
yang harus ditempuh berhari - hari bahkan
berminggu - minggu dengan pengorbanan
biaya yang sangat besar dan resiko di
perjalanan yang bertaruh nyawa, berpisah
dengan keluarganya, meninggalkan
negerinya serta menghabiskan
hidupnya....hanya untuk mendengar satu
hadits saja dari seseorang yang mendengar
langsung dari generasi sebelumnya.
Bergulirnya waktu dari generasi ke generasi
hingga kini....Kitab hadits yang disepakati
oleh para ulama' baik salaf maupun khalaf
sebagai kitab hadits yang dijadikan rujukan
yaitu Kutub As Sittah ( Kitab yang
Enam ) ....yaitu dengan urutan Shahih
Bukhari, Shahih Muslim, Shahih
Sunan Nasa'i, Shahih Sunan Abu
Dawud, Shahih Sunan Tirmidzi dan
Shahih Sunan Ibnu Majah ....Tinggal
dibuka saja kitabnya tidak perlu melakukan
perjalanan seperti para sahabat, tabi'in,
tabi'ut tabi'in dan para ulama hadits
terdahalu....Hanya menulkil dari kitab - kitab
mereka tentang isnad maupun matan
haditsnya serta menukil penjelasan hadits
tersebut dari pensyarah hadits seperti Imam
Madzhab Empat, Ibnu Hajar Al
Asqalani, Imam An Nawawi ....Beli kitab
- kitabnya, datangi majelis kajian ilmu hadits
dan bertanyalah kepada guru yang paham
akan ilmu hadits yang sanad ilmunya jelas
tentang lafadzh dan maknanya.... APA
YANG SULIT BAGIMU ? .... USAHA DAN
PENGORBANANMU TIDAK SEBANDING
DENGAN MEREKA ?....JANGAN
TUNDA !!!
# 6. SANAD
by Keluarga Sakinah on Sunday, March 13,
2011 at 6:44am
Makna " sanad " secara bahasa adalah
sesuatu yang dijadikan sandaran, berupa
dinding atau lainnya....Dalam kaidah ilmu
hadits makna " sanad " tersebut adalah
menyandarkan hukum keshahihan atau
kelemahan suatu hadits pada orang - orang
yang mengatakannya....Sedangkan dalam
keilmuan ketika mencari ilmu agama maka
ilmu yang didapatkannya tersebut
disandarkan kepada gurunya....gurunya
gurunya....gurunya gurunya gurunya....terus
dan terus sampai kepada mamba'ul 'ulum
( sumbernya ilmu ) Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam....Rangkaian mata rantai
yang di dalamnya disebutkan nama - nama
periwayat ( perawi ) inilah yang disebut "
sanad "....dalam kaidah ilmu hadits disebut
" sanad hadits " dan dalam konteks
keilmuan disebut " sanad ilmu " ....Dan
sanad inilah bagian dari agama dan memiliki
kedudukan yang agung....Sedangkan masing
- masing orang yang ada di dalam rangkaian
atau mata rantai tersebut disebut " isnad
" .
Ibnu Mubarak berkata : Jika engkau
bertanya kepada seseorang, siapakah yang
telah memberitahukan hal itu
kepadamu ?....Jika orang tersebut jujur dan
terpercaya maka orang tersebut akan
menjawab dengan tegas dari seseorang yang
telah mengatakan atau memeberitahukan
atau mengajarkan kepadanya....Namun jika
orang tersebut mengatakan sesuatu yang
tidak benar atau kebohongan maka orang
tersebut akan terdiam jika ditanya hal yang
demikian....atau dia mengatakan dengan
sekehendak hatinya atau ngawur dengan
menambah kebohongannya....Inilah
pentingnya sanad dan isnad pada rangkaian
hadits atau ilmu.
Ibnu Mubarak juga berkata :
Perumpamaan orang yang menuntut ilmu
agama tanpa sanad dan isnad yang mata
rantai ilmunya jelas maka dia bagaikan
orang yang menaiki atap tanpa tangga.
Imam Ats Tsuari berkata : Sanad dan
isnad adalah senjata orang mukmin maka
apabila dia tidak memiliki senjata lalu
dengan apa dia berperang ?
Ar Ramahurmuzi berkata : Setiap hadits
yang di dalamnya tidak terdapat kalimat "
haddatsanaa " ( telah memberitahukan
kepada kami atau " akhbaranaa " ( telah
mengabarkan kepada kami ) maka hadits itu
" khallun wa baqlun " ( murah lagi tidak
berharga ).
Imam Syafi'i berkata : Perumpamaan
orang yang mencari ilmu agama tanpa
sanad maka bagaikan pencari kayu bakar di
malam hari....dia membawa seikat kayu
bakar yang di dalamnya terdapat ular
sedangkan ia tidak mengetahuinya.
Dengan sanad dan isnad inilah maka hadits
akan menjadi sesuatu yang
otentik....kebenarannya terjaga dengan
baik....Begitu juga dengan ilmu maka ilmu
akan jelas keberadaannya....Sehingga umat
ini akan terus menggunakan hadits yang
memang disana sudah diteliti oleh para
ulama ahli hadits ( muhaditsin ) kebenaran
atau keotentikan atau keshahihan baik dari
segi sanad maupun matan ( kandungan isi )
haditsnya....dan umat ini hingga kini dan
nanti akan terus mempelajarinya dari
seorang ustadz, ulama, kyai yang ahli
dibidang hadits yang sanad ilmunya juga
jelas pernah belajar kepada ulama - ulama
terdahalu sebelumnya.
# 7. SHAHIH
by Keluarga Sakinah on Monday, March 14,
2011 at 6:49am
Hadits SHAHIH adalah hadits yang sanadnya
bersambung dengan orang - orang yang adil
dan kuat ( jayyid / dhabith ) serta tidak
syadz (menyalahi riwayat yang lebih tsiqah )
juga tanpa 'illat ( cacat )....Hadits yang
demikian telah disepakati keshahihannya
( muttafaq 'alaiha )....Namun jika hilang
sebagian dari syarat tersebut maka
timbullah khilaf ( perbedaan pendapat )
maka keshahihannya diperselisihkan
( mukhtalaf fiha ) .
Hadits Shahih Muttafaq 'Alaiha :
Hadits - hadits yang dipilih oleh Imam
Bukhari dan Imam Muslim yang
dirangkum dalam Ash Shahihain ( Dua
Kitab Hadits Yang Shahih ) menempati
tingkatan teratas....Hadits - hadits dalam
Ash Shahihain tidak diriwayatkan
KECUALI dari dua atau lebih dari sahabat
yang tsiqah dan masyhur dari Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam....selanjutnya diriwayatkan oleh
dua atau lebih tabi'in yang masyhur dari
para sahabat....kemudian diriwayatkan
lagi oleh generasi berikutnya tabi' tabi'in
yang memiliki hafalan kuat serta
masyhur dan memenuhi syarat - syarat
seorang hafidzh ( penghafal )....Al Hakim
berkata bahwa hadits - hadits yang
diriwayatkan berdasarkan syarat ini
jumlahnya tidak lebih dari 10.000
hadits.
Hadits shahih yang sama dengan kriteria
pertama hanya saja perawi dari kalangan
sahabat hanya berjumlah satu perawi
saja....Hadits hasan shahih.
Hadits shahih yang sama dengan kriteria
kedua hanya saja perawi dari tiap - tiap
generasi ( sahabat, tabi'in dan tabi'
tabi'in ) hanya terdiri dari satu perawi
saja....Hadits gharib shahih.
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh
segolongan para Imam dari bapak -
bapak mereka dan dari kakek - kakek
mereka....Kakek - kakek mereka adalah
para sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in
sedangkan keturunannya adalah orang -
orang yang tsiqah ( terpercaya ).
Tingkatan hadits - hadits shahih yang
memenuhi kriteria diatas adalah hadits -
hadits yang ditakhrij dalam kitab - kitab para
Imam Hadits dalam Kutub As Sittah
( Bukhari, Muslim, Nasa'i, Abu Dawud,
Tirmidzi dan Ibnu Majah ) dan hadits -
hadits tersebut dapat dijadikan hujjah dalam
penetapan hukum ibadah dan mu'ammalah
secara MUTLAQ ( tanpa syarat ).
Hadits Shahih Mukhtalaf Fiha :
Sedangkan hadits shahih yang
diperselisihkan ( mukhtalaf fiha ) adalah
hadits mursal yaitu hadits - hadits yang
diriwayatkan oleh orang - orang yang
membubuhi perkataannya sendiri dalam
hadits ( mudallisin ) apabila mereka tidak
menyebutkan asal periwayatannya....Juga
hadits shahih yang disandarkan pada orang
yang tsiqah dan dimursalkan oleh orang
yang tsiqah pula....Ada juga termasuk dalam
kelompok ini adalah hadits shahih yang
diriwayatkan oleh para perawi tsiqah hanya
saja mereka bukan seorang hafidhz yang
masyhur ( dikenal )....Dan yang terakhir
adalah hadits shahih dimana para
perawinya adalah ahli bid'ah apabila mereka
jujur dimana sebagian mereka ada yang
maqbul ( diterima riwayatnya ) dan ada yang
matruk ( ditinggalkan riwayatnya ).
Tingkatan hadits - hadits shahih yang
memenuhi kriteria diatas adalah hadits -
hadits tersebut dapat dijadikan hujjah dalam
penetapan hukum ibadah dan mu'ammalah
secara MUQAYYAD ( dengan syarat ).
# 8. HASAN & DHA'IF
by Keluarga Sakinah on Tuesday, March 15,
2011 at 6:27am
Hadists HASAN adalah hadits yang dalam
sanadnya tidak terdapat orang - orang yang
disinyalir sebagai orang yang tertuduh
menyalahi riwayat yang tsiqah, diketahui
asal - usul para perawi dan pentakhrijnya
masyhur serta tidak diriwayatkan dengan
satu jalan. [ Imam Abu Sulaiman
Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim
bin Al Khattab ].
Syeikh Abu Amr bin Ash Shalah
menekankan hadits HASAN terbagi menjadi
dua :
Hadits yang sanadnya masih bercampur
dengan sifat perawi yang mastur dan
belum diketahui keahlinya
( kompetensinya ) tetapi tidak banyak
memiliki kesalahan ketika meriwayatkan,
tidak nampak kedustaannya, tidak pula
ada alasan lain yang menyebabkan
perawi tertuduh sebagai orang yang
fasik....Kemudian diketahui bahwa matan
hadits tersebut telah diriwayatkan
semisalnya atau semacamnya dengan
bentuk yang lain.
Hadits yang diriwayatkan oleh perawi
yang dikenal sebagai orang - orang yang
jujur dan amanah tetapi belum sampai
pada tingkatan para perawi shahih
karena keterbatasan mereka dalam
hafalan dan ketelitian.
Meskipun derajat hadits HASAN berada
dibawah hadits SHAHIH akan tetapi hadits
HASAN dapat dijadikan sebagai hujjah
penetapan hukum dalam ibadah dan
mu'amalah.
Adapun hadits DHA'IF adalah hadits yang
tidak terdapat padanya syarat - syarat
sebagai hadits shahih dan hadits
hasan.... Hadits ini bentuknya
bermacam - macam, di
antaranya.... maudhu', maqlub, syadz,
munkar, mu'allal, mudhtharib dan
masih banyak yang lainnya .... Hadits
DHA'IF tidak bisa dijadikan hujjah
dalam penetapan hukum ibadah dan
mu'amalah [ Fiqiyyah ]....Namun para
ulama berpendapat bahwa hadits
DHA'IF dapat dijadikan sebagai
pegangan dan hikmah dalam
keutamaan amal ( fudha'il 'amal )
bagi orang per orang.
# 9, MURSAL
by Keluarga Sakinah on Wednesday, March
16, 2011 at 6:04am
Al Khathib Al Hafidzh Abu Bakar Al
Baghdadi, para ahli fiqih dan ahli ushul
mengatakan bahwa hadits MURSAL adalah
hadits yang sanadnya terputus atau disebut
MUNQATHI' ....Imam Syafi'i dan mayoritas
dari mereka memilih tidak berhujjah dengan
hadits mursal namun apabila hadits mursal
tersebut diamalkan oleh sebagian sahabat
atau dilakukan oleh mayoritas ulama maka
maka mereka berhujjah dengan hadits
mursal....Sedangkan Imam Malik, Imam Abu
Hanifah dan Imam Ahmad dan mayoritas
dari kalangan mereka menjadikan hadits
mursal sebagai hujjah.
Istilah dalam hadits yang sanadnya terputus
dari sisi manapun terputusnya apakah dari
kalangan sahabat, tabi'in, tabi' tabi'in dan
generasi setelahnya maka hadits tersebut
dikatakan MUNQATHI' ( terputus
sanadnya )....Kebalikan dari munqathi'
adalah MUTTASHIL yaitu istilah dalam
hadits yang sanadnya tersambung dari sisi
manapun.
Istilah MARFU' dalam hadits adalah
sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam secara khusus
baik secara muttashil ( bersambung
sanadnya ) maupun munqathi' ( terputus
sanadnya )....Sedangkan istilah MAUQUF
dalam hadits adalah sesuatu yang
disandarkan pada sahabat baik berupa
ucapan, perbuatan dan yang lainnya baik
secara muttashil ( bersambung sanadnya )
maupun munqathi' ( terputus
sanadnya )....Dan istilah MAQTHU' dalam
hadits adalah sesuatu yang disandarkan
pada generasi tabi'in berupa ucapan,
perbuatan dan yang lainnya baik secara
muttashil ( bersambung sanadnya ) maupun
munqathi' ( terputus sanadnya ).
16 Maret 2011 pukul 3:49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar